Rabu, 11 Januari 2017




Gawe Temfe Goreng Flus Tefung

1.           1 papan tempe, potong
2.           100 gram tepung
3.           2 cm kunyit
4.           1 buah cabe besar
5.           2 buah cabe kecil
6.           3 bawang merah
7.           2 bawang putih
8.           2 butir kemiri
9.     gula secukupnya
10.       garam secukupnya

Cara gawne Piyen?
Ataaaa, ya kari gawe-gawe bae, deh..
Nyacak-nyacak bae sih piyen?





Gawe Cipeng Rasa Badeng

1.           20 sdm Tepung terigu
2.           1/2 kol ukuran sedang (rajang halus)
3.           segenggam tauge
4.           1 batang seledri (iris halus)
5.           1 batang daun bawang (iris halus)
6.           garam secukupnya (bisa pakai 1 bungkus royco)
7.           Kunyit secukupnya
8.           5 siung bawang merah
9.          2 siung bawang putih
10.       2 buah cabai merah keriting
11.       minyak goreng
12.       3 buah cabai rawit
13.       secukupnya air

Cara gawne Piyen?
Ataaaa, ya kari gawe-gawe bae, deh..
Nyacak-nyacak bae sih piyen?





Sega Kuning Ngasli

1.           300 gram beras
2.           1 schet kara 65 ml+air 200ml
3.           1 ruas kunyit
4.           3 siung bwang merah
5.           2 siung bw putih uk besar
6.           garam sckupnya+masako
7.           daun salam 2 lmbar
8.           1 batang sereh
9.           1 lmbar daun jeruk

Cara gawne Piyen?
Ataaaa, ya kari gawe-gawe bae, deh..
Tek uruki rang ta..

dadi luh mekenen;
1. berase dibasuh sing bersih
2. dikukus, ya kaya biasane bae wong ngliwet
3. toli, bungbu-bungbune dituleg, sampe alus
4. bungbune digoreng, sampe mateng
5. segane setengah mating, dientas
6. segane diwadai paso
7. bungbu sing wis digoreng lah, dipai banyu
8. dicampuraken karo sega mau
9. baka wis rata, segane dikukus maning
10. nonggoni mateng bli?

Wis semono baeh
Gampang kan?
yawis, hayu ncak gewea srog..

(Shot at 2015)

Pagi indah desa ini, membuatku menerawang jauh bertahun tahun silam. Pagi dimana saat itu aku bangun pagi-pagi sekali, tak lupa aku mandi tanpa membereskan dahulu tempat tidur yang berantakan itu. Aku mandi begitu saja, layaknya anak kecil yang belum tahu caranya mandi, bahkan kadang aku lupa menyikat gigi, kadang pun aku lupa memakai sampo, dan entah karena tak ada, atau memang aku sendiri yang malas.
Selesai mandi kulihat jam dinding yang bertengger menunjukan pukul 06.00, tak ada perintah dan tak ada pengawasan dari orang tuaku, setelah mengganti baju dengan seragam sekolah, aku masuk ke tempat sholat dan aku tunaikan sholat subuh layaknya anak kecil saat itu, kakiku yang sesekali penuh dengan koreng-koreng membuat kakiku gemas dan menggaruk satu kaki disebelahnya, yah demikianlah waktu itu aku memang masih kecil. Selesai sholat ibu memanggilku untuk sarapan dan diberinya jajan 300 rupiah, yah saat itu aku masih kelas empat di Sekolah Dasar. Namun riang dan kegembiraan itu masih amat aku rasakan dengan uang itu.
Aku bergegas menuju sekolah membawa tas berisikan buku-buku yang lecek dan dekil, persis anak kecil seumuranku, tak lupa, tas yang aku kenakan saat itu adalah tas perempuan, ya tas perempuan. Entah akupun tak tahu, apa bapak salah membelikan aku tas, atau apalah aku tak tahu, yang aku ingat aku amat malu untuk mengenakannya, dan kadang aku merasa sedih karena tasku tas perempuan. Tapi itu tak menyurutkan semangatku untuk sekedar sekolah, aku langsung bergegas menuju beranda rumah untuk memakai sepatu kesayanganku, sepatu ATT, ya sepatu berwarna hitam dan putih yang bergambar harimau disisi kanannnya, sementara yang kiri harimaunya dikiri. Kaos kaki putih yang panjang seringkali sangat serasi dengan sepatu itu, kaos kaki yang telah begitu lebar, kaos kaki yang begitu bau, kaos kaki yang begitu kumel, karena sepatu dan kaos kakinya sengaja aku cuci sebulan sekali, hihi, namun jangan dikira aku suka memakainya loh, bahkan ujung kaos kaki yang longgar itu aku pasangi karet supaya kembali normal seperti baru. Yah, aku masih ingat itu.
Kemudian aku berangkat dengan sedikit berlari setelah cium tangan orang tuaku yang kebetulan ada diberanda rumah dan mengucapkan salam. Dan ketika musim hujan, saat itu hujan turun, aku tak lupa membawa plastik besar, seperti plastik kerupuk atau apalah namun ukurannya besar, karena bisa untuk menutupi kepala dan sebagian tubuhku saat itu, maklum saat itu ibu dan bapak tak punya payung sama-sekali. Yah, tak apalah bagiku. Aku masih bersyukur. Dalam perjalanan ke sekolah, ketika tidak hujan, teman-teman lain terlihat seperti anak-anak bukan dari desa sini, pikirku dalam hati, celana yang bagus, baju yang bagus, tas yang waaah keren sekali, bergambar “poworenjes”, aku iri pada mereka, aku betul-betul iri pada mereka, aku menjerit dalam hati saat itu.
Didekat teman-temanku yang lain kadang aku harus tertunduk (ini lebay sih) aku malu menatap diriku sendiri. Tapi rasa malu itu, hilang dengan kegirangan kecilku dulu, semua itu tak pernah terpikir terlalu berlarut-larut olehku. Sesampainya disekolah tercintaku itu, aku mendapati pagar sekolah masih tutup rapat, yah seringnya aku berangkat terlalu pagi, entahlah akupun lebih suka demikian, seperti teman-teman yang lain, hehe, aku loncat pagar sekolah, beramai-ramai dengan teman-teman laki-lakiku. Heran, aku begitu merasa seperti para “pworenjes” itu, yang jungkir-balik melawan musuh-musuhnya, dahsyat aku bilang!.
Yah, semua itu ku kira baru aku lakukan kemarin.
Kemudian fikiranku dibawa kepada hari dimana kelulusan sekolah dasar tiba, pun sepertinya hanya sekejap, tau-tau aku sudah terbangun di hari kamis, dimana semua keperluan aku mondok sudah aku persiapkan satu minggu sebelumnya, yah satu minggu sebelumnya persiapan itu telah kumplit kupersiapkan. Entah kegirangan yang teramat-amat menyelimuti fikiranku kala itu, babakan.. babakan.. babakan.. betikku dalam hati.
Secepat kilat aku rasa, aku sudah berada dibabakan, dihantar oleh kaka perempuanku yang saat itu almuni Al-katutsar dan kaka perempuan yang satu lagi, yang masih mesantren di Assanusiah, entahlah saat itu aku hanya duduk-duduk dirumah KH. Abdul Qohar, yang masih begitu asri, ada banyak pohon pisang disamping dan didepan rumahnya, pohon mangga besar tinggi menjulang sesekali membuat beranda rumah beliau kotor atau “suker”. Dan tak tahu, apa lagi, aku tak ingat. Aku hanya tertunduk, mengikuti cara kakaku duduk dihadapan beliau. Entah apa yang mereka bicarakan aku tak faham sama-sekali, lantas setelah semua maksudnya rampung, aku bersalaman dengan beliau, lalu aku dibawa oleh kakaku yang ada di Assanusi, ya tahu lah siapa?, iya beliau Sajid Muhammad, yang saat itu masih kelas tiga Tsanawiyah.
Masuk kamar yang berisikan orang-orang karawang, dimana kakaku saat itu tinggal. Ingat betul saat itu. Aku yang masih cengeng sekali, selalu dicengeng-cengengin oleh teman-teman seangkatanku, tapi yang aku salut dari kakaku beliau membiarkanku, entah menangis, entah apa, beliau tak perduli hampir sama sekali terhadapku, waw lah untuk beliau itu. “Tapi, yah namanya juga hidup, ada suka ada duka.” Demikianlah nasihat santri-santri lama kepadaku, entah siapa dia akupun tak kenal satu persatu.
Hari itu, hari senin, iya kayanya. Hari dimana aku harus test tulis untuk masuk ke SMPN 1 ciwaringin, hahaha, jangan tertawa. Karena hasil test menunjukan aku tidak diterima, yah. Sedih kan? Makanya jangan tertawa. Saat itu aku menangis, huhuhu. Cengeng memang!, “huuh cenegeng-cengeng, cengeng-cengeng.” Begitulah pekik teman-temanku meledek. Tak apalah, shodaqoh kataku dalam benak.
Lalu akhirnya aku harus menerimakan takdir yang ada, dan harus masuk di sekolah MSS, aku menjerit. Tidaaaaaaakkkkkk, tapi saat itu aku tidak menjerit. Hihi. Yah, aku harus terima kenyataan ini. Dan tiga tahun aku sekolah disana, yang aku rasa, hanya, masuk kelas tak ada guru, masuk kantor nonton TV, laper-laper masuk kantin. Diulang lagi yah, masuk kelas tak ada guru, masuk kantor nonton TV, laper-laper masuk kantin. Yah hanya seperti itu yang ku ingat. Tapi aku bangga dengan MSS, “mbuh bangga ning apae,” haha piss.
Aku ingat, saat aku kelas IX, katanya ada yang suka sama aku, iya suka, perempuan, tapi dia anak MTsN, katanya sih dia orang gebang, Cirebon, entahlah namanya juga satu komplek pondoknya, mungkin dia kenal lewat teman-temannya atau apa. Ya, ya aku yang masih labil, dibilang ada yang suka kan, wooow banget yah, hehe, aku nggak selesai-selesai bercermin tiap hari, aku ini gantengkah? Atau apakah? Kok katanya ada yang suka? Haha aneh, tapi ya akupun suka-sukaan jadinya. Ya suka beneran lah, nggak tau, masih polos. Masih belum mengerti, intinya mah.
Waktu memang sangat cepet, sangat cepat, wuuusssssshhhhh!.
Lulus dari MSS memang sangat labil, hiperlabil aku katakan. Aku saat itu bertanya pada temanku yang juga lulus dari MTsN, “kamu mau lanjut kemana?”, tanyaku santai. Diapun menjawab “MAN Model”, “yaudah hayu, aku juga daftar deh” jawabku enteng. Lantas kita bergegas berangkat ke MAN Model yang konon menurut teman-teman yang lain adalah salah satu sekolah “bonafide” yang ada di cirebon. “Bonafide dari hongkong?” gumamku mengejek, dulunya sih mungkin iya, atau tidak pun tak masalah. Dan tak ternyana-nyana, memang Hidup itu ada suka, ada duka kan? Yeah aku diterima, yes!. Meski nilaiku hanya 0.1 diatas batas tidak diterima, ya aku bersyukur dong, biar bagaimanapun. Alhamdulillah keterima.
Meskipun aku masih bertanya-tanya, apa sih standard yang digunakan “sekolah itu” untuk penerimaan siswa baru mereka, hampir-hampir aneh caranya, fikirku dulu sampai sekarang. Namun masa itu berlalu begitu saja, tiba disaat-saat aku sangat merasakan kejenuhan sekolah, seakan-akan aku tak ingin lagi melihat guru-guru dan siswa-siswa sekolah, aku bener-bener jenuh, jehuuuuh sekali. Yah setengah semester disekolah, jenuhnya menjengkelkan! (pake banget, entah kenapa?).
Dan saat itu, saat aku benar-benar jengkel dan jenuh dengan sekolah, Kyaiku KH. Abdul Qohar menasihatiku, “yang namanya belajar itu beresiko, resiko tak betah, resiko malas, dan lain yang tak enak, kalau ingin tak beresiko maka tak usah belajar, dan nanti jadi orang bodoh” begitulah kira-kira nasihat beliau saat itu, agak lupa juga. Dan mulai saat itu aku kembali semangat, sampai berjalan tiga tahun dan lulus seperti teman-teman yang lain. Dan sekali lagi entah, apa yang menjadi tolak ukur kelulusan itu?. Aku heran, aku bener-bener heran dengan semua ini.
Namun, yang aku masih rindukan dari MAN Model adalah dua sosok, yang pertama adalah MBD (Majelis Bimbingan Dakwah) dan segala sesuatu yang ada didalamnya, kemudian yang kedua adalah sosok Ibu Nining, haha salam buat Ibu Nining.
Oia, sebelumnya maaf aku ingin bercerita, sedikit tentang perempuan dulu, hihi easyiikk. Saat itu aku duduk di bangku kelas XI, ya aku sepertinya baru mengenal perempuan cantik saat itu, ya nggak tau juga sih cantik nggak. Duuh ya, yang namanya orang sedang suka sama perempuan itu, bawaanya pengen senyum terus, pakaian pun selalu rapi, meski kau tahu? Serapi-rapi pakaianku tetaplah amburadul, maklum aku adalah Waliyullah, yang tak memperdulikan pakaian saat itu. Hehehe maaf. Yah diapun seangkatan dengan ku, asalnya dari limbangan, Indramayu, adik seorang dokter, haha. Entahlah itu namanya hanya sebatas suka, akupun begitu malu, malu dan sangat pemalu, haha dasar malu-maluin. Namun memang, aku begitu suka padanya, aku hanya bisa memendam rasa itu, meski sesekali ketika bertemu aku begitu tertunduk malu, dan nervus nauzubillah. Haha sudahlah, aku malu menceritakannya, bagiku aku suka dia saat itu. Dan entahlah, akhirnya dia direbut orang karena aku begitu pemalu. Kasihan.
Kemudian kelas XII, di kelas XII pun aku sepertinya menyukai seseorang, tapi entahlah, inipun lebih-lebih aku begitu pemalu dan malu-maluin, haaaaaaaaaa, rasanya pengen jerit didalam air saat itu, aku malu, maluuuu, maluuuuuu, tidakkkkkkkk. Yah aku pernah berjalan dengan dia, hanya kadang-kadang sih, itupun hanya saat pulang dari sekolah, dan ngobrol pun entah ngobrol apa, bahkan kadang Cuma diam-diam saja, waktu itu, aku betul-betul tak tau arah. Bahkan pernah sesekali aku ingin menemuinya di kelasnya, yah dasar aku pemalu. Aku hanya duduk-duduk didepan kelasnya, melirik sebentar kedalam kelasnya, lalu kembali lagi ke kelasku sendiri, nelangsa!. Haha masa yang kejam bagiku. Entahlah yang pasti dia orang tukdana, Indramayu. Sudahlah cukup menertawakanku!.
Masa itu memang telah lewat, tiga tahun yang begitu cepat. Selamat tinggal MAN Model, huuh diselamatin segala, huuh. Hehe maaf deh.
Hening... hening... hening...
Setelah lulus dari MAN Model aku berbincang dengan ustadzku, “aku tak mau kuliah kang, aku nggak berminat, aku pengen mondok saja” kataku pada beliau, “heh! Kuliah cepet, kamu harus kulian!, tak apa niatmu apa, yang penting kamu kuliah!, kalau tak mau kuliah yang keren kuliah disini aja!. Sekarang zamannya harus kuliah” begitulah bentak beliau memecahkan keheninganku saat itu. Dan akupun menuruti beliau, sam’an wa toatan, entah benar apa tidak tingkahku saat itu, yang terpenting aku menurut dan harus kuliah!. STID Al-biruni, yah STID Al-birunilah sasaran dan rekomendasi beliau.
Setelah aku masuk dan menginjak semester pertama, di masa-masa inilah, aku begitu mengerti tentang perempuan, yah intinya baru mengerti dan telah tak begitu memalukan lagi, meskipun entahlah membicarakan hal ini itu baik atau tidak. (dan saya tulis pun, hanya untuk bumbu tulisan saja). Ya intinya baru ngerti dengan yang namanya “perempuan”. Sehingga saat itu aku baru merasakan memiliki kekasih. Ngakunya sih dia orang bogor, tapi entahlah, akupun tak kenal sama dia. Hahaha maaf. Salam saja buat dia. Hihi.
Namun, entah apa yang kurang dari kampus ini, aku sepertinya begitu bosan dengan suasananya, setelah emapt semester berlalu akhirnya aku memutuskan pindah kuliah ke kampus seberang jalan kasab sana, STAI-MA namanya. Dan aku lulus jadi Sarjana! Yeah sarjana!. Tak tahu, tapi aku tak bangga menjadi sarjana.
Dan yang menarik dari kuliah itu bukan kampusnya, tapi Organ Ekstranya, meski lagi-lagi apa yang membuatnya menarik, dan apa yang telah menarik-narik diriku, tapi seyakinku Organ Eksta adalah kampusku yang sesungguhnya, faham! Meski aku selalu gagal menjadi ketua didalamnya, haha brengsek!! Begitulah kira-kira gumamnya kalau aku jadi bandit, preman atau makelar perang, ketika aku nyalon ketua kemudian gagal terus, hehe. (maaf kata-katanya kurang sopan, hehe biar greget)
Dan suatu waktu aku pernah berkata pada teman-teman juniorku, bahwa “kuliah itu, yang terpenting adalah organisasinya bukan kampusnya, jika di SD 10%, SLTP 30% SLTA 50% maka di Kampus harus 80% organisasi dan sisanya akademik/KBM” yah memang demikian imbangnya. Menurut saya.
Namun, masa itu telah hilang, hilang begitu saja, digilas ganasnya sang waktu yang sombong.
Bahkan sesuatu yang lebih terkesan dari semua itupun lenyap, hanya meninggalkan sisa kerinduan yang entah kapan kan berbuah keindahan. Makan disecarik kertas bekas, makan pada cawan bekas teman, minum dari kucuran air keran, bahkan ketika tak ada air minum sama sekali, harus “nimba” terlebih dahulu dari sumur, begitu kenikmatan yang tiada tara kini aku rasakan.
Makan berteman garam, kulit penuh dengan gatal, penuh borok dan cengkreng. Tidur tak pernah pulas, tidurpun sering tak beralas. Mandi harus ngantri, berak harus ngantri, kencing harus ngantri, nyuci harus ngantri. Keindahan apalagi yang dapat sedikit menggeser kerinduan itu?
Sakit-sakitan tiada yang jenguk, sakit-sakitan harus tetap bertahan, hujan angin harus tetap berjuang, bahkan ketika sakit, lapar, lemas menjadi satu, kita hanya tetap sabar menanti teman yang betul-betul pengertian. Kerinduan mana lagi yang dapat menghapuskannya??
Ingatkah saat-saat teman kita bestel? Dan membawa makanan begitu banyak? Mata-mata kita sudah saling pengertian, menunjuk sebuah keresek besar, dan berdoa bersama-sama, semoga orang tuanya adalah orang baik? Dan “memblaratkan” makanan atau “jaburnya” untuk kita makan? Dan seketika kita berlarian berebut, seperti anak ayam mengejar induknya yang dapat seekor cacing atau serangga kecil. Betapa bahagianya saat itu?.
Saat satu bungkus jajanan yang diberikan oleh wali santri kemudian menjadi barang rebutan bagi kita, ada yang dapat satu, ada yang dapat segenggam ada yang mendapat banyak beserta plastiknya, bahkan ada yang tak mendapatkan sama sekali, dan kembali dengan tangan kosong, kemudian duduk terbengong-bengong. Dimana kebahagiaan lain saat itu?
Saat kena giliran piket ronda, kita harus melawan hujan, dingin menusuk tetap dilawan, ngantuk tak tertahanpun selalu ditahan-tahan, gobreg-gobreg teman yang tidur, meski diri sendiri masih mengantuk dan kurang tidur. Membangunkan satu-persatu teman dengan lunglai tak bertenaga, terkantuk-kantuk meratap di tembok dan saka-saka. Kenikmatan apa yang dapat setara dengannya?
Saat rambut harus dipangkas habis, atau sekedar diacak-acak. Saat tubuh harus dibanjur air got dan selokan. Saat tubuh harus digigit nyamuk saat dipenjara semalaman. Saat harus berdiri dan membaca sholawatan, saat harus berdiri sambil baca Yasinan. Kapankah lagi saat itu bisa terulang? Aku rindu, aku rindu, aku benar-benar rindu saat itu.
Marhabanan di malam jum’at yang tenang, santri-santri berteriak kegirangan mendendangkan sholawat kepada Nabi akhiruzzaman. Khitobah pun digelar, santri-santri bergurau berkelakar, gegap gempita menyaksikan dan disaksikan teman. Indah itu kini kemana?
Jum’at pagi, oh jum’at pagi, rumput-rumput telah siap menanti, selokan yang penuh perlu digali. Spit-hank rusak harus diperbaiki. Sukarnya lapangan perlu disapu bersih. Sorak-sorai santri-santri diiringi sholawatan khas yang islami. Duhai begitu syahdu saat itu.
Menjadi pengurus adalah karir terbaikku di pesantren, dulu sebelum jadi pengurus aku benar-benar tak tahu apa-apa. Setelah jadipun tetap tak mengerti apa-apa, namun yang aku rasa, tanggung jawab adalah hal terberat yang harus kita emban, itu saja. Aku pernah benar-benar tak kuasa menjadi pengurus, bahkan aku murung, menyesali diri tak mampu menjadi orang yang dapat mengurus. Namun, aku kira semua itu adalah proses, ya proses.
Mengajar, meupakan tanggung jawab terberat dan pengajaran tertinggi padaku, “maaf dan terimakasih” oh pesantrenku, dimana aku dipaksa belajar, ya ketika dalam keadaan terhimpit itulah aku baru bisa belajar. Indah. Indah pokoknya aku bilang, dan semua itu telah sirna dari mataku.
Teman yang begitu baik, teman yang jahat, teman yang menjadi sahabat, teman yang semuanya. Teman yang menjadi teman. Saat dimana harus bertengkar, saat diaman kita baikan, saat dimana saling ejek, saat dimana saling memuji, saat dimana saling membantu. Dan saat-saat itu telah hilang dari seluruh pandanganku.
Dan saat terakhir kali, aku ingin pergi darimu.. aku menangis, tersedu-sedu, membayangkan betapa aku takan mampu melepas dan dilepas olehmu pesantrenku.. aku menangis dengan isak-tangis yang begitu bergemuruh, akupun tak tahu tiba-tiba aku menangis tersedu-sedu, tak ada hujan tak ada angin, hanya sedikit niatku melepasmu, aku menangis sejadi-jadinya.. aku menangis.. aku menangis..
Tapi, aku benar-benar berterimakasih banyak atas jasa-jasamu pesantrenku. Ila hadlroti KH. Abdul Qohar – KH. Abdurrohman – K. Ali Munir – K. Busaeri ma’mun. Al-faatihah..

“Wa Allahu A’lam..”





Kemunculan dan laju Information and Technologhy (IT) mengubah 180 derajat tatanan sosial yang telah berlaku selama berabad-abad di muka bumi, menghilang dan lenyap begitu saja. Keteraturan sosial kebudayaan yang terjalin erat pada setiap masyarakat di berbagai pelosok dunia berubah dan bahkan menjadi runtuh. Keruntuhan dan perubahan yang mengharuskkan budaya lokal tergerus oleh jerujinya akhirnya justru menyeret arus gerak budaya lokal untuk mengikuti laju teknologi informasi tanpa ampun sejak awal kemunculannya di akhir abad ke 19 hingga sekarang.
Budaya yang ditampilkan oleh teknologi informasi memang tidak melulu negatif, namun juga ada yang positif. Akan tetapi permasalahan yang muncul sekarang adalah begitu signifikan-nya pengaruh negatif daripada pengaruh positif teknologi informasi bagi perubahan iklim budaya dunia saat ini.
Kilas balik dari berbagai macam budaya yang dahulu masih ramai dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia misalnya, adalah budaya “Gotong-royong”. Namun, setelah kemunculan teknologi informasi yang begitu kencang sekarang mulai terkikis habis hingga tergulung arus dan hilang. Sebagai akibatnya muncullah budaya “Egoisentris” atau rasa hidup sendiri-sendiri. Kemunculan budaya egoisentris tidak tanggung-tanggung menjadi virus yang menjangkiti setiap pikiran sehat seluruh pengikut arus teknologi dan informasi. Budaya negatif egoisentris muncul berhadapan dengan budaya gotong-royong dan hidup berdampingan yang positif.
Selanjutnya “Budaya Malu”, malu merupakan budaya yang positif bagi berbagai masyarakat di dunia, tak terkecuali diantaranya adalah Indonesia, namun yang terjadi sekarang, setelah begitu tingginya arus teknologi informasi, justru banyak orang yang tidak tahu malu, dan bahkan banyak yang salah menempatkan rasa malu. Implikasinya rasa sopan-santun, rasa hormat-menghormati, rasa saling menghargai yang dahulu membanjiri seluruh tingkah laku masyarakat dunia, kini hilang terbakar bara teknologi informasi yang acuh tak acuh.
                Atau seperti “Ketergantungan” setiap individu modern terhadap akses teknologi informasi yang berpengaruh besar pada semakin kurangnya minat belajar dan membaca masyarakat. Ketergantungan atau kecanduan terhadap akses informasi tidak saja menjadikan pecandu kehilangan waktu belajar dan membaca namun juga, telah menghilangkan seluruh tenaga dan materinya untuk hal yang sia-sia sama sekali. “Mengeneralisir” seluruh penikmat teknologi informasi sebagai pecandu yang ketergantungan memang bukanlah hal yang benar, akan tetapi karena begitu komperhensifnya pengaruh teknologi dan informasi bagi seluruh masyrakat dunia maka, bukanlah hal yang salah tanpa dasar untuk mengeneralisir setiap penikmat teknologi informasi sebagai orang yang ketergantungan ketimbang bahasa “dominan”.
                Barangkali “Hidup Instan” juga merupakan satu gaya hidup baru yang muncul oleh karena pengaruh teknologi informasi yang masif. Hidup instan, berarti hidup praktis tanpa rentetan proses yang berbelit-belit. Adalah gaya hidup yang negatif karena menjadikan setiap masyarakat untuk melakukan semua pekerjaan tanpa melihat dampak yang timbul akbat pekerjaannya.
Dan seluruh rentetan budaya positif yang hilang tertelan oleh budaya negatif baru yang disebarkan oleh teknologi dan informasi.
Mbuh bli jelas (belum selesay) hihi..

Know us

Our Team

Tags

Video of the Day

Contact us

Nama

Email *

Pesan *